Open Heart Surgery

Open Heart Surgery
Tampilkan postingan dengan label Pensieve. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pensieve. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Januari 2012

Investasi Tidak Sama dengan Menabung

Foto Roentgen Pertama
Ada hal-hal yg gak terpikir saat saya berusia 22 tahun, tapi baru terpikir saat saya berusia 23 tahun.
Bukan, bukan jadi juara jalan kayang se-Jawa Bali.
Tapi, investasi.

Dulu klo punya uang dikit aja pasti gatel pengen beli sesuatu.
Beli gundam, ngoprek mobil, beli gundam lagi, dan hal2 hedonis lainnya.
Tapi saya paling gak suka beli baju kecuali bener2 butuh.
Why? Because, i'm not gay.

Dan sekarang begitu merasakan punya uang sendiri, meski gak banyak sih tapi yg penting halal gak dari jual ginjal orang.
Awalnya dari ngobrol2 sama temen, tanya ke kakak saya yg akuntan, dan mempelajari di buku, ternyta investasi yang cocok buat saya saat ini adalah logam mulia.
Dan setelah baca2 buku barulah saya paham kenapa dulu waktu kecil harga es paddle pop 500, dan sekarang 2.500.
Jawabannya: Inflasi.
Akibat penurunan nilai uang kertas yang kita pake.

Gara2 inflasi juga klo saya nabung beberapa juta di bank dan hanya saya simpan, maka dalam 5 tahun pasti mengalami penurunan nilai.
Kalo justru nilainya naik brrti Indonesia sudah makmur horeeee.
Hanya angan-angan saja.
Maka dari itu saya mencari suatu solusi supaya uang saya yang sedikit ini tidak turun nilainya, yaitu beli kuning2 di sungai hehe.

Meski cuma secuil tapi selalu ada saat yang pertama untuk segala hal.
Termasuk boker pun juga ada saat yang pertama kali, apalagi investasi.
Well, mungkin ada yg heran ngapain masih muda udah mikir kaya bapak2.
Justru saya juga heran sma diri saya sendiri.
Terkadang saya memang bersikap 'sok tua', masih muda udah mikir terlalu panjang.
Banyak juga yang gak percaya usia saya 23 tahun krena wajahnya 32 tahun.
You know what? Saya rasa hal itu disebabkan krena saya sudah mengaami hal2 yang seharusnya belum dialami orang di usia awal 20.
Melihat orang sakaratul maut, melihat jenazah yang sudah tidak utuh, tega membelah tubuh orang, tega melakukan hal2 yang tidak semua orang bisa melakukannya.
Dan hasilnya? Congrats Bay wajahmu tua sekali :D

Tapi saya percaya bahwa Homer Simpson bisa jadi presiden USA. Lho?
Maksud saya, saya percaya bahwa ini gak akan sia2.
Untuk membangun Empire State Bulding tetap perlu batu bata kecil kan?
Dan untuk membangun masa depan maka saya mulai dari hal yang kecil ini.

Yang saya pahami juga investasi sektor riil ini untuk jangka panjang.
Cocok dengan niat saya yang pengen pnya rumah sendiri dulu baru nikah.
Amiiiiiiin.
(Bantu nga-Amin-in doooonk hehe)

Sudah lama gak update blog.
Btw saya mau bilang bahwa: I Love You Swastika Moeliana.
Kalo gak percaya liat aja postingan lebih dari setahun yang lalu itu.
Abay Westside... peace out...

Rabu, 09 Maret 2011

Gitar hitamku,
jemari ini,
merangkum untaian kata dan nada yang kuselipkan,
untuk mu.
 
 
 
Phueh! kenapa kamu Bay kesurupan arwah Jimi Hendrix kah? :p

Senin, 07 Maret 2011

Gege Mengejar Cinta

Pernahkah kalian membaca novel berjudul Gege Mengejar Cinta?
Ceritanya tentang seorang cowok bernama Gege yang dari sejak kecil naksir cewek yang bernama Caca, apa Chacha ya, hmmm cokelat Cha-Cha :p
Dan akhinya bgtu Gege sudah kerja dan berusia 27 tahun mereka dipertemukan thu,
Selama bertahun2 Gege menjalani hidupnya dengan hampa tanpa tahu kabar dari Caca (ini cuma nama panggilan, nama panjangnya saya lupa).
Begitu dapet kesempatan, tentu gak disia2in sama Gege, tapi ternyata Gege ditaksir sama temen kerjanya. Trus Gege pilih siapa? Mana yang dia pilih, mencintai orang yang dia cintai dan nanti selama ini, apa memilih orang yang sudah pasti mencintai dia?
Ayo baca bukunya, saya aja sampe berkali-kali baca ini buku (gambar jempol guedhee)

Thanx untuk Alfan yang memperkenalkan buku ini.

Oya,
Beberapa hari yang lalu waktu saya mau berangkat jumatan,
ibu saya bilang "Dik mbok pake peci kalo jumatan."
Baiklah saya ambil peci putih itu dan saya pake.
Ibu saya melihat selama 2 detik dan berkomentar "Lhooo cino kok pake peci kaya pak haji".
Tiada yang lebih menyejukkan selain kejujuran seorang ibu :p

Minggu, 06 Maret 2011

Mencintai atau Dicintai?

Beberapa waktu yang lalu entah ada apa saya terlibat dalam sebuah diskusi semi-ilmiah via dunia kurang nyata (baca: BlackBeriii Messenger). Diskusi ini antara saya dengan kakak kelas saya. Awalnya diawali dengan pertanyaan: “Pilih mana, mencintai atau dicintai?”
Whoaaa, sebuah pertanyaan dengan hanya 2 pilihan jawaban namun beribu alasan.
Yang masing2 jawaban antar individu bisa sangat berbeda, dan masing2 akan mempertahankan argumen nya sampai urat di lehernya keluar.
Apa jawaban saya?
Sebelumnya begini, apapun pendapat anda saya tidak akan menyalahkan lho ya.
Jadi begini...
Bagi saya memberikan sesuatu, apa pun itu, besar atau pun kecil, bila kita ikhlas, itu adalah menanamkan kebaikan.
Dan apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Kapan dan dimana kita menuainya, itu rahasia Allah. Bisa saja cinta yang kita tanam akan kita tuai dari orang yang sama dan dalam tempo singkat, bisa juga kita akan menuainya dari orang lain dan dalam tempo tidak singkat (baca: suwi).
Dengan saya mencintai dia, maka saya akan berusaha menjadi orang yang lebih baik. Lho jadi cinta butuh syarat? Tidak. Cinta tidak butuh syarat apa pun. Saya saja yang ndablek pengen berusaha menjadi orang yang lebih baik. Boleh kan?
Pengen cepet selesai sekolah biar bisa sekolah lagi, pengen mencari pekerjaan yang halal dan baik, pengen jadi imam yang baik untuk keluarga nanti, pengen bisa beliin istri saya susu pas dia lagi hamil, pengen bisa nabung buat nyicil rumah yang cukup nyaman untuk tempat berteduh anak dan istri, pengen punya tabungan pendidikan biar anak saya bisa sekolah setinggi-tingginya, demi Allah saya ingin itu semua bisa tercapai.
Terus Bay, misal ada 2 orang. Yang pertama sudah jelas mencintai kamu. Yang kedua adalah orang yang kamu cintai tapi belum pasti mencintai kamu, kamu pilih yang mana?
Saya pilih orang yang saya cintai. Saya akan berjuang, dengan cara yang baik. Saya akan mencintai dia dengan tulus, meski belum tentu berbalas. Sampai suatu hari nanti dia berkata “Berarti kamu sekarang lagi cari pasangan hidup Bay?”, dan saya jawab “Iya, ini aku lagi nyari.”
Nothing in this world that's worth having comes easy.

Rabu, 15 September 2010

Orang yang Penting Bagi Kita

Siapakah orang yang penting itu?
Apakah orang tersebut adalah orang yang sudah kita miliki atau ingin kita miliki?
Saya menemukan jawaban (versi sendiri) untuk pertanyaan ini.
Kita dapat mengibaratkan dua buah benda, yaitu air dan emas.
Air merupakan zat yang memiliki rumus kimia H20.
Dan rumus kimia untuk emas saya gak tau.

Kucing lagi enak-enaknya minum air
(Author Daniel Forsbakk)

Tapi yang saya tau dan disepakati oleh semua orang adalah emas merupakan benda berharga.
Banyak orang ingin memiliki emas, yang sudah memiliki pun ingin memiliki lagi.
Namun pernahkah terbersit dalam diri kita akan pentingnya air?
Air yang selama ini kita buang, atau saya terutama yang sering membuang-buang air, ya buat minum, buat cuci mobil, buat mandi, buat cebok juga.
Sebegitu terbiasanya kita akan air sehingga tidak menyadari pentingnya air.
Namun begitu kita kehilangan sesuatu barulah kita menyadari pentingnya sesuatu itu.
Bayangkan saudaraku bagaimana bila air begitu langka sehingga kita harus cebok dengan daun kaktus?
Bagaimana bila air begitu langka sehingga bila mobil kita kotor dan hanya bisa di-tayamum-kan dengan pasir atau debu?
Bagaimana bila emas begitu berlimpah sehingga kita bisa cebok dengan emas? (Just crazy talk, not gonna happen)
Kaktus
Sungguh tidak terbayangkan saudaraku.
Adalah fakta bahwa semua orang tidak akan bisa hidup tanpa air.
Secara medis tubuh kita hanya bertahan selama 5 hari tanpa minum air sama sekali.
Dan bertahan hanya sampai 3 hari bila hari ke-2 tergiur minum air AKI.
Percaya atau tidak, kita bisa hidup sampai puluhan tahun tanpa emas, namun tidak akan sampai 1 minggu tanpa air.
Dan percayalah insan-insan yang saya tampilkan di foto ini adalah air bagi saya.

Momen bahagia bisa mengumpulkan 5 orang yang berada di 5 propinsi berbeda

Mungkin saya belum menjadi air bagi siapapun,
namun saya berharap suatu hari nanti menjadi air bagi orang lain.